Pemkot Jangan Manjakan Investor

Oleh : Roosalina

Seminar IntelektualIDE Wali Kota Sukawi Sutarip untuk mewujudkan Semarang Pesona Asia pantas dihargai. Ide itu layaknya orang tua yang memberi nama kepada anaknya.

Selain sebagai tetenger, nama tersebut sekaligus dimaksudkan sebagai sebuah doa. Akan tetapi gagasan itu bagi Kota Semarang tak ubahnya sebagai proses pengembangan kota yang terlalu dini. Bagaimana tidak, perkembangan pesat yang diinginkan itu tidak diimbangi oleh tercukupinya sarana kota.
“Yang pasti, Semarang bisa dikatakan miskin ruang ekspresi,” kata Dosen Fakultas Teknik Unnes, Ir Saratri Wilonoyudo MSi dalam Seminar Intelektual yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Fakultas Ekonomi Unnes, di kampus Sekaran, baru-baru ini.

Lalu Lintas

Dia menambahkan, hal tersebut terlihat dari gemarnya mengganggu kelancaran lalu lintas demi mewadahi ekspresi warga dalam menyalurkan bakat seni dan olahraga.

Demikian pula Balai Kota yang sangat gemar menutup jalan Pemuda hanya untuk keperluan senam massal, upacara atau penyambutan pejabat.

Karena itu, Saratri menganggap sudah saatnya Pemkot menghentikan kebiasaan itu. Pemerintah seharusnya tak terlalu memanjakan investasi bisnis yang cenderung ‘lapar’ akan tanah.

“Kemanjaan tersebut mengakibatkan ruang-ruang terbuka yang sekiranya bisa digunakan untuk menyalurkan ekspresi akan hilang dari peredaran. Begitu pula nasib taman-taman kota,” tutur dia.

Salah satu kunci sukses keberhasilan Semarang Pesona Asia (SPA) yaitu pengoptimalan daya tarik yang ada. Gagasan ‘City Walk’ di kawasan Kota Lama dianggap akan menambah daya tarik yang sebelumnya sudah ada.

Akan tetapi hal itu dinilai bukan hal mudah. Sebab, selama ini kawasan Kota Lama tak ubahnya sebuah kota mati.

Tanpa adanya pembenahan, konsep tersebut akan menjadi proyek mubazir.

“Bagaimana mungkin, orang mau jalan-jalan untuk enggar-enggar penggalih (menghibur diri-Red), Kalau di Kota Lama tidak ada yang layak ditonton,” jelas dia.

Dosen Fakultas Ekonomi Unnes, Drs Widianto MM MBA yang juga pembicara, menganggap Pemkot perlu melibatkan UKM yang ada di Kota Semarang guna mendukung pelaksanaan SPA.

Hanya saja, saat ini perkembangan UKM sendiri masih menemui banyak kendala.

“Banyak UKM tidak mampu bertahan karena kurang modal, ketrampilan teknis dan pemasaran,” jelas dia. (56)  

Sumber: Suara Merdeka, 20 Maret 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: